Kumpulan Puisi Rhe

Cerita dari hati

SEKEPING HATI YANG MERINDUKAN CINTA Februari 10, 2009

Filed under: Cerpen — rheifania @ 6:32 am

Tak pernah sedikitpun terlintas dipikiranku kalau hidupku jadi seperti ini.Tinggal di

kontrakan kecil, pindah sekolah, dijauhi teman-teman.Semua ini karena usaha Papa bangkrut dan

untuk memenuhi hutang papa di bank terpaksa mobil, rumah dan segala isinya dijual.Bahkan semua itu juga membuat mama meninggalkan aku dan papa.Mama lebih memilih lari ke pelukan laki – laki kaya yang ternyata adalah rival bisnis Papa dan yang bertanggung jawab atas kebangkrutan Papa. Mama sama sekali tidak peduli dengan kami.Kasihan sekali Papa, setelah semua yang terjadi papa berubah menjadi seorang yang pendiam dan sakit – sakitan.Aku benci Mama!!itulah yang selalu

terlintas dalam pikiranku tatkala ingat mama.

“Pa…Jihan berangkat dulu ya….Mbok Tini…nitip papa ya…”Setiap aku kesekolah aku selalu

menitipkan Papa ke mbok Tini, mantan pembantu di rumahku dulu.Sekarang Mbok Tini tinggal di

kontrakan sebelah aku dan papa tinggal.Setelah rumahku dijual Mbok Tini lebih memilih membuka

warung kecil di kontrakan agar bisa tetap menjaga aku dan papa.Sejak aku kecil Mbok Tini yang

mengasuhku, hingga kini Mbok Tini masih peduli walau keluargaku walaupun kami sudah tidak bisa menggajinya lagi tapi beliau tulus, bahkan ketulusannya yang dia berikan tak pernah aku dapatkan dari mamaku sendiri.

“Aduh…..lama banget sih angkotnya” gerutuku dalam hati saat menunggu angkot.Berulang kali ku

lihat jam ditanganku.Kalau aku telat lagi pasti tidak bisa ikut ulangan.Aku semakin cemas, apalagi hari ini jam pertama ada ulangan Bahasa Inggris.Dan sudah dua kali aku telat mengikuti ulangan Bahasa Inggris, bisa – bisa aku dihukum lagi.

“Jihan?!!!!!!!” aku berusaha mencari suara orang yang memanggilku.

“Randy??ngapain kamu disini????” Tanyaku pada Randy, temanku di sekolah yang lama dulu.

“ Lah….kamu sendiri ngapain sendirian di halte gini???” Randy balik tanya kepadaku.

“Emangnya kamu nggak tahu orang di halte itu ngapain???ya nunggu angkotlah….gimana sih?

Nggak tau atau pura – pura nggak tau?” jawabku ketus.Randy malah cengar – cengir.

“Ya udah sini aku anterin, kamu udah mau telatkan???” kata Randy sambil membuka pintu mobilnya.

Dalam keraguan akhirnya akupun masuk ke dalam Honda Jazz merah itu.Ya lumayan irit ongkos, lagi pula kalo aku tetep nunggu angkot pasti telat.45menit kemudian kami sampe di depan sekolahku.

“Makasih ya Randy….berkat kamu aku nggak telat dan bisa ikut ulangan deh…” kataku sembari

keluar dari mobil Randy.

“Ntar pulang jam berapa? Aku jemput ya…” Randy menawarkan jasanya untuk menjemput aku.

“Thanks, tapi aku bisa pulang sendiri kok.Lagian nggak enak ngerepotin kamu, lagi pula siang

ini aku ada perlu”  Aku langsung bergegas masuk area sekolah karena ku dengar bel sudah berbunyi.

Ulangan hari ini ku lalui dengan tanpa ada kesulitan.Setelah jam pelajaran usai, aku bergegas keluar

kelas, karena hari ini aku ada janji dengan Om Danu, pengacara perusahaan papa waktu masih maju dulu.Semalem Om Danu menelpon aku dan meminta agar datang ke kantornya hari ini. Katanya ada pekerjaan buatku.Lumayankan buat menyambung hidup bersama papa yang saat ini masih sakit – sakitan.Setengah jam kemudian aku sampai di depan kantor Om Danu .Setelah menemui sekretaris

Om Danu, aku disuruh menunggu beberapa saat.Tidak ada 5menit Om Danu keluar dari ruangannya

dan menyuruhku masuk.Kami membicarakan banyak hal, termasuk keadaan papa yang sama sekali

belum ada perubahan.

“Kamu yang sabar Jihan…..Om yakin kesabaranmu akan berbuah manis” Om Danu memang baik.

Dia sahabat baik papa.Bahkan di saat papa benar – benar jatuh beliau masih mau menolong kami.

“Iya Om….Jihan juga tau.makanya Jihan mau kerja di sini bantuin Om.” Jawabku tegar.

“Memangnya mama kamu benar – benar belum kasih kabar?” Tanya Om Danu

“Sudahlah Om….Jihan nggak berharap mama kembali, kenyataannya sekarang mama nggak peduli

lagi dengan kami, mama lebih memilih uang dan orang yang telah menghancurkan papa dari pada

kami, anak dan suaminya sendiri” ku coba untuk tidak menangis di depan Om Danu.

“Kayaknya kamu benci banget ya dengan mama kamu, kamu tidak boleh sepertim itu Jihan…..biar

bagaimanapun dia tetap mama kamu….” Om Danu mulai menasehati seperti Mbok Tini.Tapi apa

bisa aku memaafkan mama?aku sendiri tidak tahu, hatiku sudah terlanjur hancur oleh sikap mama itu. Mama bukanlah mama yang baik, jadi patutkah untuk dimaafkan?Aku juga ingin sekali memaafkan mama dan mendapatkan cinta mama, tapi kenapa jika ingat mama yang ada bukanlah maaf melainkan kebencian dan dendam???

            Sepulang dari kantor Om Danu aku langsung ke tempat Mbok Tini menjemput Papa yang tadi

pagi aku titipkan di tempat Mbok Tini.Dan waktu aku sampai di tempat Mbok Tini aku lihat Papa

tertidur di depan TV.Karena tidak tega membangunkan, aku balik pulang untuk ganti baju, lalu

kembali ke tempat Mbok Tini untuk membantu Mbok Tini jualan.

            Sudah seminggu sepulang dari sekolah aku kerja di kantor Om Danu.Gajinya memang nggak

seberapa, karena aku juga belum punya pengalaman apa – apa.Dan di sana aku juga cuma bantu –

bantu sekretaris Om Danu yang sedang hamil dan kerja sendirian tidak ada yang membantu.Walau

pendapatanku nggak seberapa tapi aku bahagia, setidaknya aku bisa bertahan.Harapanku, saat Papa pulih suatu saat nanti aku sudah sukses dan bisa membuktikan ke Mama bahwa tanpa kehadiran mama kami masih bisa bertahan.Bahkan kami tidak memerlukan Mama lagi untuk bertahan.Dan kalau nanti Mama kembali, waktu itu adalah waktu yang terlambat.Karena aku tidak mungkin untuk menerima Mama kembali setelah apa yang mama perbuat.

“Aduh!!!!telat lagi deh, papa..Jihan berangkat dulu ya…”Aku berpamitan dengan papa dan langsung pergi.Aku senang sekali karena sekarang papa sudah mulai membaik.Aku terus berlari berharap tidak ketinggalan angkot lagi.Tiba – tiba…..”Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiin” Mobil itu hampir menabrakku.Aku jatuh tersungkur, pemilik mobil keluar dan menolong.Seorang cowok, cakep…..banget.

“Kamu nggak pa – pa kan?”tanya cowok itu.Aku hanya menggelengkan kepala sembari melihat Bus kota yang lewat depan sekolahku sudah berlalu.

“Yah ketinggalan bus lagi deh…..” gerutuku sambil berdiri dan membersihkan lututku dari debu.

“Emangnya kamu sekolah di mana?aku anter ya….sebagai ucapan maafku” cowok itu menawarkan jasanya.Akupun tidak menolaknya, dari pada telat lebih baik aku terima tawaran itu.Dalam perjalan cowok itu tak banyak bicara.Dia hanya memperkenalkan diri.Namanya “Dicky”.Kelihatannya dia anak orang kaya, dan bukan termasuk anak yang manja yang bergantung pada kekayaan orang tua.

“Makasih ya….” Aku segera berlalu dari mobil itu setelah sampai di depan sekolahku.Untung saja belum bel.Aku segera duduk di bangkuku dan disampingku sudah duduk manis Dina, teman sebangkuku.

“Telat lagi non?di anter si cakep dari sekolah yang dulu?” ledek Dina.Aku hanya membalas ledekan itu dengan senyuman.

“Kali ini dianterin cowok lebih cakep dari Randy.Tadi cowok itu hampir nabrak aku…..”

“Astaga Jihan?kamu nggak pa – pa??” Dina langsung memotong omonganku

 “Ih….aku nggak pa–pa Dina…..Cuma……” aku pengen membuat Dina penasaran.

“Cuma apa???” Dina mulai penasaran dan khawatir.

“Hahahaha…wajahmu lucu kalo khawatir gitu, aku baik – baik saja, Cuma hatiku berdebar–debar duduk dekat cowok itu, apa ini yang namanya Jatuh cinta pada pandangan pertama?” tanyaku pada Dina.Dina malah berbalik menertawakan aku.Apanya yang lucu?Apa aku tidak boleh jatuh Cinta?? Dan biar bagaimanapun juga aku ini kan manusia biasa.Tawa Dina terhenti saat Bu Guru masuk kelas.Pelajaranpun di mulai.Dari jam pelajaran pertama sampai jam istirahat Dina senyum melulu.

“Jihan….tunggu…”tampak Dina lari – lari mengejarku.

“Kok kamu ninggalin aku sih….katanya kemarin mau pulang bareng?gimana sih” kata Dina.

“Aduh sory banget, aku ada urusan…”Jawabku singkat sambil bergegas meninggalkan sekolah.Tapi Dina mengejar aku lagi.Aku sendiri juga bingung apa sih maunya tu anak.

“Aduh Jihan…..tungguin dong….sebenarnya kamu mau kemana sih?kayaknya akhir-akhir ini kamu selalu pulang buru-buru dan nggak mau pulang bareng lagi.” Dina mulai menginterogasi aku.

“Dina….bukannya kau nggak mau pulang bareng, tapi aku memang ada urusan.Soal akhir-akhir ini aku pulang cepet itu karena harus kerja sepulang sekolah.Kamu tau sendirikan setelah perusahaan bangkrut papa jadi seperti apa?dan mamaku juga pergi gitu aja.kalo aku berdiam diri aja bagaimana kami bisa makan?tabungan yang tersisa juga lama-lama habis kali.” Aku mulai menjelaskan kepada Dina tentang keadaanku yang sebenarnya.

“O gitu…ya udahlah.kamu yang sabar aja ya…sapa tau mama kamu akan kembali.Jadi kamu nggak usah repot-repot kerja sepulang sekolah” Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Dina itu.

“Mana mungkin mama kembali.Mama sudah bahagia dengan laki-laki kaya itu.Dan kalo mama kembali, apa bisa aku nerima gitu aja.Hatiku sudah terlalu sakit karena mama”Ucapku datar.

“Kamu nggak boleh gitu….Tapi sudahlah lupain aja.Dari pada kamu sedih gitu, mending liat tu di depan gerbang….”Dina menunjuk gerbang sekolah.Randy?gapain dia di sini?Dan perlahan tapi pasti Randy mendekati ku.

“Sejak kapan kamu di sini?”tanyaku pada Randy.

“Ya….15menit yang lalu.Habis aku nggak tau gimana menghubungi kamu.HP di telp ga bisa, aku juga nggak tau sekarang kamu tinggal di mana.Jadi aku ke sekolah aja” Jawab Randy

“Aduh…sory banget….bukannya susah di hubungi, emang beberapa hari ini HP aku error.Dan belum sempet servis” jawabku.

“Ya udah aku anterin pulang ya….” Randy menawarkan jasanya.

“Thanks, tapi sorry… aku ada keperluan.Aku harus ke apotek, mau beli obat buat papa” jawabku

            Randy ngotot mau mengantarku.Akhirnya aku bersedia diantarnya.Memang di sekolah dulu Randy selalu mengejarku.Dan entah kenapa sampai saat ini dia masih mengejarku. Padahal dia tau aku sudah tidak seperti dulu lagi, sudah tidak selevel dengannya yang anak orang kaya.Sampai di apotek aku dikagetkan dengan sosok mama yang di sana.Apalagi mama ditemani seorang cowok, yang ternyata cowok itu adalah “Dicky”.Cowok yang hampir menabrakku tadi pagi, cowok yang sempat membuat hatiku berdebar.Siapa sebenarnya cowok itu?apa hubungannya dengan mama? seribu tanya melayang – layang di pikiranku.

“Jihan…kamu kenapa?” pertanyaan Randy itu membuyarkan lamunanku, lalu aku menunjuk ke arah mamaku dan dicky.

“Mama kamu?tapi….itu kan Dicky….” Perkataan Randy itu mengagetkanku.Ternyata Randy juga mengenal Dicky.Siapa Dicky sebenarnya??

“Kamu kenal Dicky??” tanyaku pada Randy.Dan Randy hanya menajawab dengan anggukan.

“Dia kan anak baru di sekolah.Pindahan dari Bandung.Anak pengusaha terkenal Pak Nugroho itu lo…tapi kayaknya dia nggak seperti papanya yang sombong itu” Randy menjelaskan siapa Dicky sebenarnya.Betapa kagetnya aku ternyata Dicky itu anak dari orang yang telah menghancurkan papa dan membawa kabur mama.Lalu kenapa hatiku seolah nggak menerima kenyataan itu?apa karena aku sudah terlanjur kagum padanya???

Semenjak kejadian di apotek itu aku selalu teringat mama dan Dicky.Kenapa harus Dicky?? Kenapa orang sebaik itu punya hubungan dengan orang yang paling ku benci.Jangankan untuk jatuh cinta, berteman dengannya adalah haram bagiku.Tapi dia kan baik….aku semakin dalam dilema yang tak berujung.Apa yang harus aku perbuat??Apakah aku harus mendekati Dicky untuk membalas sakit hati papa??Tapi Dicky tak bersalah…….

“Kalo menurutku….sebaiknya kamu lupain aja Dicky itu, kamu baru kenal dia seminggu kan?.Lebih baik kamu terima Randy yang nyata-nyata udah kenal kamu kenal lebih lama, dan yang jelas Randy jauh lebih baik dari pada Dicky, meski aku belum pernah ketemu sih..” nasehat Dina padaku.

“Maksud aku…..mungkin dari Dicky aku bisa membalas sakit hati papa dan merebut semua yang kami punya dulu….” Aku mulai terbawa emosi

“Jihan…..yang namanya dendam itu nggak baik..ngapain kamu susah–susah balas dendam seperti itu, semua pasti sudah ada yang ngatur.Orang jahat pasti ada balasannya, kalo kamu tetap mengambil resiko seperti itu, nanti kalau Dicky benar–benar jatuh cinta gimana??kalo kamu yang jatuh cinta gimana??apa nggak bakal bikin papa kamu sedih lagi??” Dina mulai berceramah. Dan aku hanya bisa mendengarkan.Sebenarnya ada benarnya juga perkataan Dina itu.

            Sore itu setelah keluar dari kantor Om Danu, aku kembali melihat mama bersama Dicky.Aku mencoba menghindar, tapi semua terlambat.Mama keburu ada di depanku.Mama berusaha menyapa tapi aku menghindar.Dicky mengejarku….

“Jihan…tunggu….” Dicky menarik tanganku.

“Lepas!!!” aku berusaha melepas genggaman tangan Dicky, tapi kekuatanku jauh di bawah Dicky.

“Kenapa sih….kamu nggak bisa sopan sedikit dengan orang tua, apalagi mama kamu sendiri” Dicky membentakku keras.Aku tersentak.Siapa dia?berani-beraninya membentakku.

“Apa urusan kamu….dia bukan mamaku lagi, mama macam apa dia yang tega meninggalkan anak dan suaminya demi harta? apa pantas dia dipanggil mama??kemana dia saat aku kalaparan dan berusaha kesana-sini hanya sekedar untuk makan?Apa pernah ia berfikir aku makan apa hari ini, sementara dia di rumah gedong itu makan dengan enaknya???Apa mama pernah berfikir, bagaimana perasaanku?aku sayang mama, aku rindu mama.Tapi semua sia-sia, dan sayang serta rindu itu sudah ku kubur dalam-dalam”aku berbalik membentak Dicky. Bersamaan dengan itu kristal-kristal bening mengalir dari pipiku.Aku tak menyangka bahwa aku pernah ada rasa pada Dicky.Aku tak menyangka Dicky telah mengoyak-ngoyak hatiku.Benar kata Dina, Randy jauh lebih baik dari Dicky.Lalu buat apa selama ini hatiku mencari cinta Dicky??

“Apa kamu tau Jihan, mama kamu juga tersiksa dengan semua ini??” Dicky berusaha menenangkan aku.Aku melihat mama yang berdiri di koridor kantor Om Danu.Mama menangis.Tuluskah mama?? aku sendiri juga tak tau.

“Mama kamu juga tidak bahagia dengan semua ini, makanya sekarang mama kamu mencari kamu dan papamu.Asal kamu tau, mama kamu melakukan ini semua juga karena rasa sayang dan cintanya kepada kamu dan papamu.Aku tau aku nggak berhak ikut campur dalam masalah kalian, tapi asal kamu tau, mama kamu itu nggak salah, yang salah adalah papaku, Pak Nugroho…”Dicky mulai bercerita dan mencoba meluluhkan hatiku.

“Karena hutang papamu yang terlampau banyak, dan karena cinta papaku yang tak terbalas oleh mamamu, papa melakukan kecurangan ini. Kalau mamamu nggak mau meninggalkan papamu untuk menikah dengan papaku, papaku mengancam akan memenjarakan papa kamu itu.Sekarang apa kamu masih menyalahkan mama kamu???Seandainya kamu tau penderitaan mama kamu selama ini….aku sudah tidak mempunyai mama Jihan…sejak kecil aku tinggal bersama nenek aku.Aku bahagia punya mama baru, tapi aku sedih saat tau mama terpaksa melakukan semua ini.Dan mengenai papaku, aku sudah tidak kaget lagi dengan kelakuannya itu.Mama aku sakit-sakitan dan akhirnya meninggal dunia juga karena ulah papaku itu” Air mataku semakin mengalir deras mendengar penjelasan Dicky. Hatiku semakin bimbang, haruskah ku rangkul mama???aku sungguh nggak tau harus berbuat apa.

“Percayalah Jihan…..hati mama kamu juga hancur dengan keadaan ini….kalaupun aku bisa membahagiakan mama…..aku akan melepaskan mama agar kembali kepada kalian, tapi ancaman papa telah menyurutkan langkahku” kata Dicky.Aku mencoba untuk tidak mendengarkan Dicky, tapi melihat air mata mama hatiku luluh lantak.Segera ku hampiri mama, ku peluk erat mama, kami hanyut dalam suasana.Entah gembira atau sedih, aku tak dapat mengecap rasa ini.Aku gembira karena aku mendapatkan cinta mama, aku sedih karena aku tau mama tak mungkin ada disisiku lagi, mama sudah mempunyai kehidupan lain dengan papanya Dicky.

            Setelah kejadian di kantor Om Danu itu, Dicky jadi sering datang ke rumah bersama mama. Walaupun harus curi-curi kesempatan dan berbohong kepada papanya, tapi Dicky rela asalkan mama bahagia.Bahkan papaku juga sudah menganggap Dicky anaknya.Aku yang dulu berharap bisa jadi pacar Dicky harus menerima kalau aku adik tiri Dicky.Pahit memang, tapi setidaknya itu lebih baik, dari pada aku mencintai dia dengan diliputi dendam.Sekali lagi Dina benar, aku harus melihat kegigihan Randy yang begitu menyayangiku.

“Jihan…..kamu ngapain melamun di situ??” tanya Dicky padaku

“Aku lagi bayangin kisah cintaku, lucu banget ya….dulu aku berharap bisa pacaran dengan kamu agar bisa membalas sakit hatiku pada mama dan papa kamu, eh….ternyata sekarang bukannya jadi pacar kamu malah jadi adik kamu”jawabku sambil tersenyum malu.Dicky membalas senyumanku dengan senyum khasnya seperti pertama kali kami bertemu.Lalu dia duduk disampingku.Kami sudah akrab layaknya kakak dan adik.

 

“Jihan…. kenapa kamu nggak nyoba membuka hati kamu untuk menerima Randy.Apalagi dia berasal keluarga yang baik-baik, tidak seperti aku, anak hasil broken home yang kesepian” jawab Dicky

“Memang Randy baik sama aku dan papa, tapi sepertinya hatiku belum menerima.Aku mau cinta itu hadir tanpa ada beban.Tanpa ada rasa untuk membalas kebaikan Randy.Jadi biarlah hati ini mencari sendiri tempat untuk melabuhkan cinta.Kalau memang Randy pelabuhan terbaik, pasti cinta itu bisa menemukannya tanpa ada beban dan kesulitan” jawabku

“Ah kamu ada-ada saja.Mana ada cinta di samain dengan pelabuhan.” Dicky tertawa terbahak-bahak

“Ya….suka-suka aku dong….” Jawabku.

            Entah apa yang ada dipikiranku sekarang.Yang jelas aku bahagia karena mendapatkan cinta mama lagi dan cinta Dicky tentunya.Walaupun bukan cinta yang seperti ini yang ku harapkan.Tapi sepertinya cinta dari seorang kakak memang jauh lebih pantas aku dapatkan dari Dicky dari pada cinta sebagai seorang kekasih.Dan aku yakin tanpa dicaripun, cinta pasti datang menghampiriku.

Seperti malam ini, saat aku bercengkerama dengan kakak baruku, Randy datang.Dan untuk kesekian kalinya dia menyatakan cintanya padaku.Aku juga tak mengerti mengapa bibirku bisa mengatakan iya.Padahal beberapa jam yang lalu aku baru mengatakan kepada Dicky kalau aku masih mau mencari pelabuhan hatiku.Mungkin benar, Randy memang pelabuhan cinta terbaikku.Dengan datangnya Randy di hatiku, lengkaplah sudah kebahagianku.Aku hanya berharap semua ini bukan cuma mimpi yang bisa pergi saat ku buka mata ini.Selamat datang Cinta………………………….

Aku teringat dengan kata Om Danu, bahwa kesabaranku akan berbuah manis.Dan ternyata bukan cuma manis yang ku dapatkan, tapi jauh lebih manis dan indah dari yang pernah ku bayangkan.Aku yang dulu terpuruk dan menyangka Tuhan nggak adil, kini dengan menatap ke depan aku lihat betapa keadilan Tuhan itu memang nyata.Aku dan keluargaku di uji, dan sekarang aku dipersatukan lagi.Walaupun tidak seperti dulu lagi, tapi aku bahagia…..

 

By Rhefania

 

 

4 Responses to “SEKEPING HATI YANG MERINDUKAN CINTA”

  1. Rychan Says:

    Number Wahid……Puanjanggggggggg……… just say CUAPPE, LELAH, LEMAS…..;)

  2. rheifania Says:

    Rychan : hahahaha…namanya juga cerita.gimana sih……..udah liat tentang Rhe belum????ada yang baru loch…

  3. kunaepi Says:

    waaawwwwww…..
    great histories, btw ni kisah nyata kali yak..???🙂

  4. rheifania Says:

    @kunaepi : hahahahaha bukan kale….cuma imajinasi rhe aja…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s