Kumpulan Puisi Rhe

Cerita dari hati

Dalam Pelukan Kasih Februari 10, 2009

Filed under: Cerpen — rheifania @ 6:34 am

Hari ini adalah hari pertamaku masuk sekolah yang baru.Sekolah elit dimana yang belajar di sana adalah anak-anak orang kaya.Rasa minder itu terselubung di dalam hatiku.Karena aku yang hanya seorang anak yatim yang ditolong seorang pengusaha kaya yang tidak lain adalah orang tua angkat saudara kembarku.Namun aku yakin aku bisa berbaur dengan mereka dengan segala keterbatasanku.Apalagi Kak Bintang, saudara kembarku juga bersekolah di sana.Di sekolah itu tidak ada yang tau kalau Kak Bintang mempunyai saudara kembar.Terang saja mereka tidak tahu, karena walau kami kembar tidak ada kemiripan yang diantara kami. Aku perempuan, dan Kak Bintang laki-laki.Namun kami mempunyai satu benda yang kami berdua sama-sama memakainya, yaitu cincin.Menurut Ibu panti dimana dulu kami tinggal cincin itu sudah ada saat kami ditemukan dulu.

Kak Bintang mengenalkan aku kepada teman-temannya.Dia mengenalkan aku sebagai saudara kembarnya. Bahkan dia tidak malu mengakui kalau dia cuma anak angkat dari kedua orang tuanya kini.Walaupun dengan pengakuan itu kebanyakan dari teman-temannya menjauh darinya. Hanya beberapa orang saja yang mau berteman dengannya, itupun terdiri dari mereka yang tidak cukup kaya dan bersekolah dengan beasiswa.

“Bulan….emang bener kamu saudara kembar Bintang???” Tanya Santi sambil memperhatikan kami.

“Astaga….masa kalian nggak percaya sih…..Bulan ini saudara kembarku.Dulu dia tinggal di Panti, di Surabaya.Dulu aku juga tinggal di sana.Tapi aku di adopsi saat berumur 9tahun.Bukankah aku pernah cerita…” Kak Bintang mencoba menjelaskan kepada teman-temannya.

“Tapi dulu kamu nggak bilang kalau kamu punya saudara kembar….cantik pula….” Jawab Rama

“Sudahlah….nggak perlu diributkan, yang penting intinya kami saudara kembar.Dan aku senang berkumpul lagi dengan Kak Bintang, setelah 8tahun berpisah.Dulu Kak Bintang sangat mengingankan kasih sayang seorang Mama, makanya aku ditinggal sendiri di Panti.” semua tampak memandangku dengan pandangan haru.

“Wah…..jahat juga kamu Bintang…teganya kamu meninggalkan adik kembar kamu di panti sendirian….Kalau ga mau buat aku aja….” Kata Rama sambil tertawa cengengesan.

            Hari pertamaku ku di sekolah sungguh menyenangkan.Namun masih bingung harus tinggal dimana. Mengingat keluarga angkat Kak Bintang aku ragu, apakah mereka mau menerimaku.Karena seingatku Kak Bintang pernah bilang kalau keluarga dari papanya tidak setuju dengan pengangkatan Kak Bintang sebagai anak.Apalagi kalau aku ikut tinggal disana.Nyaliku kembali menciut saat menginjakkan kaki di rumah itu.

“Kak…..Bulan nggak mau ah tinggal di sini…..Bulan takut….” Pintaku pada Kak Bintang.Namun permintaanku hanya dijawab dengan gelengan kepala.

“Memang kamu mau tinggal di mana?nggak usah aneh-aneh deh….!!!” kata Kak Bintang.Tapi aku masih tetap terpaku di depan gerbang rumah itu.Entah kenapa kakiku terasa berat untuk melangkah.Sampai akhirnya Kak Bintang memaksaku untuk masuk.Aku tertegun saat masuk rumah itu.Megah…..sangat megah sekali.Belum pernah aku melihat rumah seperti ini.Tak lama setelah kak Bintang mengucapkan salam, seorang Ibu yang terlihat anggun keluar dan dibelakangnya terlihat nenek-nenek yang kelihatan banget tidak suka dengan kedatanganku.

“Selamat datang Bulan……Aduh maaf ya…kemarin Tante nggak bisa jemput kamu.Kemaren Tante sibuk nyiapin acara pengajian mengenang 7 hari kematian Om…..” kata Mama Kak Bintang.

“Nggak apa tante….Bulan juga ngerti kok.Bulan di jemput ke Jakarta aja Bulan udah seneng banget.Kemarin Bulan emang bingung makanya Bulan cari penginapan.Tapi untungnya Bulan menginap di rumah karyawan Tante.Darinya Bulan tahu keberadaan Kak Bintang, sampai akhirnya Bulan di sini…” jawabku.

Mama Kak Bintang tampak menganggukkan kepala, lalu mengenalkan aku dengan Oma Lusi.Tanganku gemetar saat berjabat tangan dengan Oma itu.Aku takut melihat sorot matanya.Memang di rumah itu baru saja berduka.Om Atmaja, papa angkat Kak bintang meninggal 7 hari yang lalu karena kecelakaan.Dan karena itulah aku dijemput kesini.Untuk menemani Tante Rahma dan Kak Bintang.

Tante Rahma memanggil pembantunya untuk mengantarku ke kamar.

“Ya sudah….non Bulan mandi aja dulu, lalu turun.Semua menunggu untuk makan siang” Aku hanya mengangguk lalu Bi Ratmi meninggalkan aku.Aku bergegas ke kamar mandi yang juga ada dalam satu kamar itu.Namun tiba-tiba Oma Lusi nyelonong masuk ke kamarku.Aku sangat kaget dan takut.Dengan wajah penuh kebencian beliau mengingatkan aku dengan posisiku di rumah ini.Dan setelah berceramah ini itu beliau memperingatkan aku agar tidak bicara kepada Kak Bintang ataupun Tante Rahma.Selesai mandi, aku segera ke meja makan, di sana sudah ada Kak Bintang, Tante Rahma dan Oma Lusi yang menungguku. Berbagai makanan tersedia di atas meja makan.Air mataku menetes ke pipi.Aku nggak menyangka bisa makan seenak ini.Tidak seperti di panti dulu yang semua serba sederhana.Aku lihat Oma Lusi dengan muka garangnya.Nyaliku menciut, nafsu makannya jadi hilang

 “Bulan….ayo…nambah lagi makannya.Nggak usah malu…” Kata tante Rahma.Aku hanya tersenyum…

“Iya Tante….” Jawabku lirih.

 “Lho….kok panggil tante, kenapa nggak mama aja” Pinta Tante Rahma.

 “Kayaknya Bulan lebih nyaman memanggil tante.Bukannya Bulan tidak mau…tapi demi menjaga omongan orang. Karena selama ini semua orang tahunya Om dan Tante hanya punya anak bernama Bintang.Lalu apa kata orang bila tiba-tiba saya yang baru muncul memanggil Om dan Tante dengan sebutan Mama dan Papa?Apa tidak akan jadi bahan gunjingan orang?Jadi Bulan tidak mau membuat keluarga ini malu.Apalagi kalau sampai rekan bisnis Om Hardiman tau” jawabku.

“Syukur deh kalo ngerti” Kata Oma sinis.Keadaan jadi hening dan tidak mengenakkan hati.

Tante Rahma menegur Oma.Aku lihat Kak Bintang tertunduk sedih.Karena malam kian larut, aku pamit untuk tidur.Entah kenapa mataku enggan terpejam.Aku terus memikirkan perkataan dan kebencian Oma Lusi.Apakah seharusnya aku nggak kesini???.Memang seharusnya aku mempertimbangkan omongan Ibu Panti.Tapi semua sudah terjadi, aku sudah di sini jadi tidak mungkin aku mundur lagi.Malam kian larut, akhirnya mata ini sudah tidak bisa di ajak kompromi lagi.Aku pun tertidur, sampai pagi menjemput.Setelah membereskan kamarku aku membantu Bibi beres-beres dan menyiapkan sarapan.Setelah semua siap baru aku bergegas mandi.Sehabis mandi betapa kagetnya aku melihat Oma Lusi sudah ada di kamarku.Beliau memberi aku uang Rp. 5000.Aku bingung, uang untuk apa??Katanya buat naik angkot.

“Bagaimana dengan Kak Bintang Oma….” Tanyaku

“Satu hal yang harus kamu ingat, kalau di depan Bintang dan Mamanya kamu boleh panggil aku Oma, tapi kalau tidak panggil aku nyonnya.Kamu bisa bilang sama Bintang pengen naik angkot atau apalah terserah kamu.Yang jelas jangan bawa-bawa saya” jawab Oma yang kemudian berlalu.

            Aku sungguh bingung, tapi aku mencoba untuk menerima semua dengan ikhlas.Akhirnya setelah sarapan aku bilang ke Kak Bintang untuk pergi duluan.Karena aku sudah janji dengan Santi untuk naik angkot bareng.Untungnya Kak Bintang percaya aja.Andai Kak Bintang tau aku tertekan di rumah itu…..

“Bulan….kok kamu nggak bareng ma Bintang??” tanya Santi

“Iya..aku pengen belajar mandiri San…” Jawabku sambil menuju kelas bersama Santi.

Aku rasa Santi curiga dengan jawabanku itu.Tapi aku pura-pura diam saja.Aku harus bisa menyembunyikan semua ini agar tidak memperburuk keadaan.Saat memasuki kelas ternyata Kak Bintang sudah datang lebih dulu.Kak Bintang langsung berhambur menuju aku.Aku tahu Kak Bintang khawatir, karena aku belum lama tinggal di kota ini dan yang jelas aku juga belum tau arah.Beruntung aku tidak nyasar, karena hanya ada satu angkot yang lewat depan sekolah ku.

            Hari-hari yang ku lalui di rumah itu penuh dengan kepalsuan.Disaat ada Kak Bintang dan Tante Rahma aku harus berpura-pura bahagia dan tidak ada apa-apa, walaupun sebenarnya aku merasa tersiksa dengan perlakuan Oma Lusi.Namun demi Kak Bintang aku rela dengan kepura-puraan ini.Aku sudah terlanjur di sini jadi tidak mungkin mundur lagi.Besar harapan Ibu Panti mengirimku ke kota ini agar bisa berkumpul dengan Kak Bintang dan bisa menjadi orang yang membanggakan.Aku tidak boleh menghancurkan harapan Ibu Panti itu.

“Bulan….sebenarnya kamu kenapa sih nggak pernah mau bareng kakak ke sekolah?” tanya Kak Bintang.

“Kak Bintang sudah tau jawabannya bukan….” Jawabku

“Nggak Bulan….aku tau kamu itu seperti apa, pasti ada yang kamu sembunyikan…” selidik Kak Bintang.

Aku tau walau kami kembar beda kelamin, tapi ikatan batin kita memang kuat.Jadi aku nggak heran kalau Kak Bintang curiga dengan sikapku.Namun walau begitu aku tetap berusaha menutupi kejadian yang sebenarnya dari Kak Bintang.

            Hari ini hari ulang tahun Kak Bintang, tepatnya hari ulang tahun kami.Tante Rahma bermaksud merayakan hari ulang tahun itu.Seperti biasanya Oma Lusi menginginkan pesta ini hanya untuk Kak Bintang. Dan aku….aku hanya bisa melihat dari jauh Kak Bintang meniup lilin itu.

“Bulan….kenapa kamu tidak ikut tiup lilin???” tanya Rama. Aku hanya terdiam.

“Jangan bilang tamu-tamu dan keluarga Bintang yang hadir di sini tidak tau siapa kamu….?” Kata Rama.

“Ya…begitulah Ram…Aku memang saudara kembar Kak Bintang, tapi di sini..di keluarga ini aku hanya orang yang di ambil dari panti asuhan untuk menemani Tante Rahma….”Aku mulai menjelaskan keadaanku pada Rama.Entah kenapa kepada Rama aku berani untuk berkeluh kesah dengan semua ini.

“Memang bagi Tante Rahma sendiri aku ini adalah anaknya juga, tapi Oma….Oma tidak menerima aku Rama….Dan demi nama baik keluarga ini aku tidak keberatan kok tidak dianggap adik kembar Kak Bintang di depan semua orang.Karena biar bagaimanapun, semua orang serta relasi bisnis keluarga ini taunya hanya Kak Bintanglah anak Om Atmaja dan Tante Rahma….” Aku mulai menitikan air mata.Rama mengusap air mataku lalu menarik tanganku dan mengajakku keluar dari pesta itu.Dan dengan mobilnya dia mengajakku keliling kota Jakarta dan melihat pemandangan Jakarta di malam hari.Lalu kami berhenti di sebuah toko kue, aku lihat nama tokonya “DAPUR COKELAT”.Rama langsung memesan kue, setelah itu menarik tanganku kembali ke mobil.Kami menuju MONAS, di sana Rama mengeluarkan Kue Brownis, cokelat asli kesukaanku.Setelah menyalakan lilin, Rama menyanyikan lagi ulang tahun.Aku masih tertegun melihatnya.

“Rama kenapa kamu melakukan semua ini…” tanyaku sambil makan kue

“Jujur aku salut sama kamu, kamu cewek yang hebat dan tegar.Kamu belum pernah ke kota ini tapi berani pergi-pergi sendiri naik angkot.Bahkan dengan ongkos yang pas-pasan.Aku aja nggak bisa bayangin kalau sampai itu terjadi padaku.Kamu rela tidak mengakui bahwa kamu saudara kembar Bintang hanya untuk menjaga nama baik Keluarga Atmaja yang sebenarnya baru kamu kenal….” Jawab Rama

“Yakin hanya itu….” Tanyaku

“Ya…kalo boleh jujur sih sebenarnya aku memang suka sama kamu sejak pertama kali kita ketemu.Tapi ya.. belum sempet ngomong ja…..” kata Rama sambil memandangku lekat-lekat.Dan dia pun meminta aku untuk menjadi pacarnya.Aku kaget dan tak tau harus berkata apa.Tapi Rama juga tidak memaksaku untuk langsung menjawabnya.Karena dia juga tau itu terlalu cepat buatku.

            Setelah malam itu Rama menjadi sering datang ke rumah.Bahkan tiap pagi dia juga menjemputku di ujung gang perumahan.Kedekatanku dengan Rama akhirnya tercium juga oleh Kak Bintang.Dan parahnya waktu Kak Bintang bertanya denganku di saat yang nggak tepat, saat kami semua makan malam, dan di mana di situ ada Oma Lusi.Aku jadi bingung harus gimana.Apalagi Oma Lusi seperti tidak suka dengan hubungan ini.Apa yang harus aku lakukan…………….

“Sudahlah Bulan….kamu itu sudah gede…Tante kenal Rama itu anak yang baik, jadi nggak apa kalo kamu pacaran dengan dia….benerkan Ma??” tanya Tante Rahma pada Oma Lusi.Aku hanya terdiam dan melirik Oma Lusi yang sedari tadi diam saja.

“Bulan….kenapa kamu diam??” tanya Kak Bintang

“Enggak kok kak….Bulan nggak kenapa-kenapa, Bulan juga nggak pacaran sama Rama.Kita cuma berteman kok…” jawabku.

Setelah makan aku pamit untuk mengerjakan PR di kamar.Dan ternyata Oma Lusi membuntutiku.Sepertinya Oma masih belum puas dengan jawabanku.Parahnya lagi Oma mulai curiga kalau aku pergi ke sekolah tidak lagi naik angkot, makanya jatah uang sakuku ditiadakan.Ya Tuhan….kenapa semua jadi seperti ini…. Rasanya aku ingin kembali ke Panti aja.Semakin aku mencoba bertahan, aku semakin tak bisa.Akhirnya ku putuskan untuk meninggalkan rumah ini secepatnya.Besok aku harus berbicara dengan Kak Bintang.

            Sepulang sekolah aku mengajak Kak Bintang untuk ke café dekat sekolah.Aku juga ditemani Rama dan Lyra, sepupu Rama yang kebetulan pacar Kak Bintang.Sesuai dengan kesepakatanku dengan Rama, aku mau pindah dan sesuai dengan persetujuan Lyra, aku akn tinggal bersamanya di apartemennya.Jadi aku tinggal ngomong dengan Kak Bintang dan Tante Rahma.

“Aduh…tumbern banget nich…ada Lyra dan Rama pula.Ada apa nich…mau traktir ya Ram…kalian udah jadian??”tanya Kak Bintang ke Rama.Rama hanya tersenyum dan meyuruh Kak Bintang duduk.Setelah Kak Bintang duduk barulah aku bercerita tentang semua yang aku rasakan.Rasa tertekanku yang begitu dalam, dan akhirnya menyebabkan aku berkeinginan untuk pindah dari rumah mewah itu.

“Bulan tau kak…pasti ini berat buat Kakak, tapi kita masih bisa ketemu kan???” kataku

“Tapi kenapa bisa kamu menyembunyikan semua ini Bulan…..seolah-olah aku ini bukan siapa-siapa kamu? Sebenarnya kamu anggap aku ini apa??” Kak Bintang tampak kesal dengan kebungkamanku selama ini

“Bukan begitu Kak….Bulan Cuma ga ingin liat pertengkaran di rumah.Bulan kasihan dengan Tante.Apalagi Oma juga mengancam Bulan, jadi Bulan…..”

“Ah….sudahlah, nggak usah cari alasan.Dari awal aku selalu bertanya apakah kamu ada masalah, tapi kamu diam saja dan selalu bilang baik-baik saja.Mungkin kamu lebih percaya sama orang lain dari pada saudara kembarmu sendiri….” Sindir Kak Bintang kepada Rama.Rama langsung menoleh dan menatap Kak Bintang dengan pandangan tidak suka.

“Apa maksud kamu Bintang…?bisa-bisanya kamu ngomong seperti itu?kamu sendiri sudah menemukan kejanggalan kenapa tidak mencari tau, kamu juga tau Oma seperti apa, tapi kenapa kamu membiarkan Bulan tinggal disana??apa kamu tau selama ini dia cuma dikasih uang 5000 buat saku.Itupun sudah termasuk ongkos dia pulang dan pergi” papar Rama.Aku berusaha mencegah Rama untuk tidak menceritakan semua, tapi tidak bisa.Jadi aku hanya bisa diam dan diam.

“Apa kamu tau betapa tersiksanya dia melihat kamu meniup lilin di hari Ulang Tahun kalian sementara dia… dia hanya bisa melihat dari kejauhan.Sebenarnya dimana perasaanmu…bisa-bisanya kamu berbicara seperti itu.Dulu waktu kamu kecil, dengan tega kamu tinggalin dia.Setelah dewasa kamu panggil dia.Katanya untuk kembali berkumpul seperti dulu, tapi ternyata hanya untuk melihat kebahagianmu yang ternyata bukan untuk dia.Hanya untuk merasakan kepedihan yang melebihi sewaktu kau tinggalkan dulu.” Kata Rama.Kak Bintang sudah tidak bisa berkata apa-apa.

“Bintang…kamu tidak boleh egois seperti itu.Karena biar bagaimana Bulan itu punya hak untuk memilih bukan??Coba kamu pikir buat apa Bulan di rumah kamu kalau ternyata dia tidak bahagia.Toh dia masih di kota ini kan….Di apartemen aku Bulan…kamu bisa kok berkunjung setiap saat.Lagi pula dia rumah kamu bukan sebagai saudara kembar kamu kan??Jadi buat apa diributin…” bujuk Lyra.

            Akhirnya Kak Bintang luluh juga.Sekarang tinggal berbicara dengan Tante Rahma dan Oma.Rasanya hatiku lega dengan semua ini.Mudah-mudahan semua berjalan lancar.Aku sudah tidak sabar untuk pindah dari rumah itu.Rencanya malam ini aku dan Kak Bintang akan membicarakan semua ini dengan Tante Rahma dan Oma.Selesai makan malam aku bermaksud untuk mengutarakan semuanya, tapi entah kenapa tiba-tiba Oma kejang, dan pingsan.Tante ketakutan, begitu pula dengan Kak Bintang.Sedangkan aku….aku hanya bisa melihat kepanikan itu.Aku tidak tau harus berbuat apa.Dalam hati aku berkata “kenapa sih harus pingsan sekarang..”, namun aku berusaha untuk bersikap dewasa.Seperti yang diperintahkan Tante Rahma aku segera menghubungi ambulance.Dan tak lama kemudian ambulance itu datang.Tante dan Kak Bintang menemani ke rumah sakit.Sementara aku, aku harus menunggu di rumah.Karena hari ini Bibi cuti pulang kampung.

            Sampai menjelang subuh masih belum ada kabar apa-apa baik dari Tante Rahma maupun Kak Bintang.Hatiku semakin resah, ingin rasanya menyusul ke rumah sakit tapi aku tidak bisa.Tiba-tiba terdengar suara mobil dari luar.Aku segera berhambur melihat siapa yang datang.Ternyata Kak Bintang.Aku segera membuka pintu, ku lihat kesedihan tergambar di wajah Kak Bintang.Aku tidak berani bertanya apa-apa.Dan ternyata tanpa ku pinta Kak Bintangpun bercerita.Oma kena serangan jantung.Sekarang masih di ruang ICU. Semalam sempat sadar memanggil-manggil Om Atmaja.Sungguh menyedihkan sekali.Ternyata Oma tersiksa dengan keegoisannya selama ini.Yang tidak mengijinkan pengangkatan anak dan terlebih lagi kedatanganku di sini.Aku jadi merasa bersalah dengan semua ini.Aku memeluk saudaraku itu, dan berkata :

“Kak…Bulan akan segera pergi dari sini….jadi Oma tidak akan tersiksa lagi…” kataku. Kak Bintang menangis, lalu memelukku.

“Maafin kakak Bulan…nggak seharusnya kakak membawamu ke kota ini hanya untuk merasakan kepedihan seperti ini.Benar kata Rama, aku memang tidak mempunyai hati…..Tapi jujur Bulan….aku takut…aku takut kehilangan mama…aku juga takut kehilangan kamu…sementara jarak itu terlalu jauh memisahkan kamu dan mama.Mana mungkin aku bisa memilih….” Kata Kak Bintang.

“Kak Bintang nggak perlu khawatir, kakak nggak akan kehilangan mama kakak dan aku.Karena aku akan selalu ada buat kakak.Aku akan selalu mendekap kakak dengan kasih…” jawabku menenangkan Kak Bintang.

“Tapi Bulan…..”

“Tapi apa lagi Kak…??” tanyaku.

“Itu…Oma juga kekurangan darah dan harus transfusi darah.Kakak bingung, mama sudah periksa tapi darahnya tidak sesuai, sementara darah kakak sesuai, tapi karena kakak mempunyai riwayat kesehatan yang kurang baik, jadi dokter tidak mengijinkan…..” kata Kak Bintang.Aku tersenyum.

“Kakak lupa??golongan darah kita kan sama….” Kataku.

“Iya, tapi….apa kamu bersedia sedangkan…..” aku segera menutup mulut kak Bintang

“Biar bagaimanapun Oma baik dengan kakak, jadi apa salahnya aku membantu.Oma itu sekarang adalah Oma kakak, walaupun Oma tidak mengakuiku tapi aku ini saudara kembar kakak, jadi Oma itu juga Oma aku bukan??Ya….asalkan kakak merahasiakan siapa yang mendonorkan darah buat Oma, pasti semua akan baik-baik saja.” Kataku.Kak Bintang mengangguk.Lalu kami bersiap ke Rumah Sakit.Sebelum itu aku menelpon Rama dan Lyra untuk menjemputku di rumah sakit.Karena setelah urusan donor selesai aku akan langsung pindah ke apartemen Lyra.

            Ternyata donor itu tidak semudah yang aku pikir.Setelah darah diambil aku bisa langsung pulang.Aku keliru.Justru aku tidak diperbolehkan langsung pulang, karena kondisiku yang lemah.Rama dan Lyra yang sudah siap dari tadi untuk membawaku pergi jadi urung karena melihat kondisiku yang lemah.

“Bulan…kenapa sih kamu harus mengambil resiko seperti ini…kamu lihat diri kamu sekarang.Memangnya Oma itu mau mengerti keadaan kamu??” tanya Rama.Aku hanya bisa tersenyum

“Iya Bulan…kamu itu kan tidak diakui, kenapa kamu harus berbuat ini??” tambah Lyra

“Nggak apa kok….kalian nggak usah kawatir.Setelah ini aku juga akan langsung pindah dari rumah itu.Tapi sebelum aku pindah aku ingin berbuat sesuatu yang setidaknya mengamankan posisi Kak Bintang di rumah itu.Aku ingin Oma bisa menyayangi Kak Bintang sepenuh hati kalau nanti Oma sadar dan tau Kak Bintang yang mendonorkan darah untuknya.” Jawabku.Rama menangis haru lalu memelukku.Kak Bintang juga hanya bisa menangis dan meninggalkan kamar tempat aku di rawat.

            Setelah aku mendonorkan darah atas nama Kak Bintang, dan Oma sadar serta tahu semua itu, yang aku harapkan terwujud.Oma berubah 180° ke Kak Bintang.Oma berubah menjadi sangat sayang kepada Kak Bintang.Aku sangat bahagia mendengarnya.Walaupun Oma masih belum bisa menerimaku, setidaknya Oma bisa menerima saudara kembarku dalam pelukannya.Dan itu lebih dari cukup bagiku.

            Walau aku sudah tidak tinggal di rumah itu lagi, tapi Tante Rahma masih menanggung semua biaya hidupku.Mungkin untuk berterima kasih atas darah yang ku berikan kepada Oma.Tante Rahma juga membujukku untuk kembali ke rumah itu.Tapi semua sudah terlanjur, aku sudah bahagia dengan kehidupanku sekarang ini.Dan aku tidak mau menambah beban keluarga itu lagi.

“Selamat malam Lyra…”sapa Tante Rahma yang tiba-tiba berkunjung ke apartemen Lyra, tempat aku tinggal.

Lyra segera mempersilakan Tante Rahma masuk.Ternyata tante Rahma bersama Oma dan Kak Bintang.Aku kaget bukan main.Kok tumben sekali Kak Bintang dan Tante Rahma datang, bersama Oma pula.Hatiku jadi tidak enak.Tante Rahma menyuruhku duduk disampingnya.Lalu dia menyampaikan maksud kedatangan mereka untuk menjemputku pulang.Aku terkejut, apalagi Oma memohon.Dari cerita Kak Bintang ternyata Oma sudah mengetahui perihal donor darah itu.Dan Oma menyesal atas segala sikap dan perlakuannya selama ini kepadaku.Oma bermaksud merangkulku untuk kembali ke rumah itu.Tapi semua itu sudah tidak mungkin buatku.Aku mengerti dengan niat baik Oma, aku bahagia Oma sudah berubah.Tapi aku tidak bisa kembali bukan karena aku tidak memaafkan Oma atau aku tidak sayang mereka.Justru semua ku lakukan karena aku sayang mereka.Aku hanya ingin menjaga nama baik keluarga Oma dan Tante Rahma.

“Tante…Oma…Bulan mohon Tante, Oma, dan Kak Bintang mengerti.Bulan nggak mau mencemarkan nama baik keluarga karena kehadiran Bulan di sana.Mungkin semua keluarga bisa menerima kehadiran Bulan, tapi bagaimana dengan omongan orang…Walaupun Bulan tidak bisa tinggal bersama di rumah itu, tapi Bulan masih bisa berkunjung kesana bukan??begitu juga dengan Oma, Tante, dan Kak Bintang.Toh aku tinggal di apartemen Lyra…”Kataku.

“Iya Oma….lagi pula ada Lyra di sini…pasti Lyra akan menjaga Bulan dengan baik..”Tambah Lyra meyakinkan Oma.

 

            Akhirnya dengan berat hati Oma merelakan aku tinggal bersama Lyra.Aku bahagia sekali karena kini aku sudah memiliki keluarga yang utuh.Walaupun dalam pandangan masyarakat dan semua orang aku ini bukan siapa-siapa, tapi cukup bahagia mendapatkan tempat di hati Oma dan Tante Rahma.Tak jarang Oma dan Tante Rahma datang ke apartemen Lyra membawa makanan untukku, atau bahkan mengajak aku dan Lyra hunting baju-baju atau makanan di mall.Hidupku terasa lengkap sudah.Beban terasa berkurang bahkan hampir aku tidak punya beban.Walaupun masih ada satu masalah yang masih mengganjal, masalah Rama dan cintanya masih selalu membayangi pikiranku.

            Aku sudah bertekad, aku mau mentuntaskan masalahku dengan Rama.Sepulang sekolah mengajak Rama ketemuan di taman dekat apartemen Lyra.Seperti biasanya Rama menepati janjinya, sebelum aku tiba di taman itu dia sudah lebih dulu ada di sana.Hatiku berdebar-debar memulai pembicaraan.Perasaanku bergejolak, dengan tebata aku meminta maaf karena belum bisa menerima cinta Rama.Rama terdiam, entah apa yang ada di pikirannya, mungkin marah, kesel, aku juga tidak tahu.Aku sendiri juga bingung dengan pikiranku.Karena jujur, dalam hatiku bergemuruh menolak keputusanku.

“Rama…maafin aku…bukan maksud aku menyakiti kamu, Cuma belum saatnya saja….Aku sayang kamu, aku sedih kehilangan kamu, tapi kamu tau kan…aku nggak bisa membagi pikiranku untuk hal seperti itu.Aku harus konsentrasi dengan sekolahku, aku tak ingin mengecewakan Ibu panti dan orang tua angkat kak Bintang.Aku yakin, meski untuk saat ini kita hanya bisa berteman, tapi bila memang Tunan menyatukan kita dalam kasih, Aku nggak akan ke mana – mana.Aku akan tetap ada di sini, di pelukanmu…..Rama…” Aku mencoba menjelaskan kepada Rama.Tapi Rama masih juga diam.Sampai akhirnya dia menghela nafas dan berdiri dari duduknya lalu meraih tanganku.

“Bulan….Bulan….kenapa kamu harus seperti ini….aku kan sudah bilang ke kamu rasaku ini tulus…jadi aku juga siap menerima resiko apapun dari kamu.Jadi nyantai aja kali….aku ngerti kok posisi kamu.Aku hanya nggak ingin lihat kamu bersedih lagi.Kalo keputusan ini membuatmu bahagia aku rela jadi penunggu di hatimu sampai nanti hati itu menjemput hatiku…..”Ucapan Rama itu sedikit membuatku tenang.Setidaknya walau saat ini aku tidak bisa jadi pacarnya, tapi aku tetap bersama dia, sampai nanti mulut ini sanggup mengakui hati yang telah jatuh hati.

            Setelah hari itu aku merasa seperti tidak mempunyai beban, semua orang yang aku sayang senantiasa memelukku dalam kasih mereka yang tiada batas.Bahkan saat liburan, sesekali aku diantar Rama dan Kak Bintang pulang ke Panti. Rasanya lengkap sudah kebahagian ini.Aku selalu berharap semua ini abadi.Semua ini bukan cuma mimpi.

 

 By Rhe

 

4 Responses to “Dalam Pelukan Kasih”

  1. gwgw Says:

    rhe….jgn berpelukan, itu dilarang…..
    bukan muhrim….

  2. gwgw Says:

    tapi kalo muhrim ggp kok…🙂

  3. rheifania Says:

    gwgw : Klu berpelukannya ma kamu baru di larang.hahahaha….tapi bagus ga cerita aku??lagi belajar sih….soalnya aku lebih cenderung ke puisi dari pada cerpen.tapi makasih dah mampir ya….sering2 mampir kesini

  4. stevanus Says:

    kenapa sih kamu hanya diam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s